Senin, 07 September 2009

Kepada Mu Tak Ada Ragu


Kepada Mu Tak Ada Ragu

Tak ada ragu dan tak diragukan lagi
Malam ini Langit terang
Tak ada temaram Dipandang sejuta bintang
Kuat Di genggam angin malam
Harum bunga dipangkuan sendiri

Belum pernah seharipun alfa
Ini sekedar nasehat kata kata
Yang mudah saja, jika ingin suatu saat bisa kita dilupa
Dengan harumnya Bunga pertanda mekarnya cinta
Pelengkapnya purnama lambang kasih setia

Kupuaskan rasa dahaga yang lama
Yang rindunya pun terus bersemayam didada
Kutatap purnama lekat seolah mata kekasih tercinta
Yang sinarnya terang, menembus bimbang sisanya keraguan
Dieratnya peluk pangkuan dibisikannya sejuta keyakinan
Dirinya mulai tersenyum, dibukanya kembali sejuta kesempatan
Bagi ku, dan bagi para perjuang agar baktinya lebih berkembang
Agar cinta nya lebih dalam, agarnya suksesnya gilang gemilang

Sekali ini, kuberanikan diri menatap langit
Tak ada ragu dan tak pernah di ragukan
Setaman Bunga bermekaran
Bulannya semakin terang
Para pejuang mulai bertandang
Karena cinta nya sudah pasti menang
Karena cintanya tak kenal takut dan sakit
Katanya menantang, Dijalan kedepan segera di tujukan.

Oleh : kang Roedy
RTM Depok / Senin, 07 Sept 2009 ;Pukul 06.00 Wib

Senin, 24 Agustus 2009

Luas


LUAS

Sebutir mutiara, bukan?
Saya menulis, mengatakan dan menjelaskan dengan luas
kejujuran yang tak di ragukan senantiasa puas
Mutiara katakan mutiara, puas bukan?

Namun kenyataan berkata lain, mereka di abui dosa
percaya perang saudara
pandang saja begini
pidato sepatah katapun tetap begitu

Sekali lagi saya mengatakan dan menulis dengan luas
sebutir mutiara, bukan?
siapa berani katakan, jujur saja
karena tugas kita hanya menjelaskan
mengungkapkan isi hati setulus jujur seluas mungkin
karena Cinta katanya tidak butuh ke munafikan




KangRoedy
LA : 21/8/2009 : 3;44 Wib

Minggu, 16 Agustus 2009

Hendak Kemana


Hendak Kemana

Ada apa sesungguhnya, nampak gelisah dan tergesah-gesah

Memang, Kemana hendak pergi di pagi buta ini

Ke sawah ladang atau ke pabrik tua dipinggir kampung kumuh itu

Tiga minggu ini kau nampak aneh dan benar-benar aneh

Sudah jangan Kau pedulikan aku, mentari telah jatuh

Lambat aku, mampus sudah


Ya sudah jika demikian, habiskan saja dulu sarapanmu

Jika Panas Kirimkan segera Koran harga seribu

Tak perlu bersungut-sungut, sebab tak membuat aku takut

Segera saksikan Di sawah ladang itu penuh tangis dan ceceran darah

Di Gerbang Pabrik itu penuh poster dan spanduk

Semua berbaris rapi menghadap ke timur

Tanah dan upahnya terus di rampas

Sedang Sekarat

Sedang Sekarat

jangn terlalu banyak mengumpat/
di ikat saja biar kuat/
kenapa masih saja melihat begitu lekat/
atau sudah lupa akal sehat/
hey....semuanya sudah tahu mana penjilat mana penjahat/
hey...semua juga sudah mengerti mana muka mana pantat/
jadi yakinlah apa yg di perbuat/
karena tidak ada kutukan dan laknat yang muncrat-muncrat/

yang ada semua Rakyat sedang sekarat/....>>>